Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Aku membenci dalam keadaan mencinta

Percayaku pada rasamu sudah hancur, namun rasaku tidak kunjung melebur. Bagaimana bisa, mencinta saat rasa sudah terkubur? Pelukku yang hambar, Namun rinduku masih menyambar. Mana mungkin, ada nyaman ketika pertemuan membuat gusar? Tatapmu tak lagi menggetarkan dada, Namun kepergianmu menggoyahkan logika. Bagaimana bisa, aku membencimu dalam keadaan mencinta? Ku tau kamu tak benar-benar mencinta, Sebab itu aku membenci rasa yang kamu tumbuhkan dalam dada. Tapi ketika kamu memintaku untuk duduk berdua, Ku menyambutnya dengan senang hati tanpa duka. Bagaimana bisa, aku terus menerimamu, Sedangkan aku telah melepas genggamanmu. Mana mungkin, aku sanggup menetap, Sedangkan aku tak lagi berharap. Aku yang dulu mencintaimu begitu dalam, Sedang mencari cara mengucap salam perpisahan.

Menekan rasa saat bersamamu

Aku meringkuk diatas kasur, memeluk guling yang terasa tidak nyaman seperti biasanya. Malam ini, setelah pertemuan itu. Aku tidak benar-benar terlelap, sesekali terbangun dan yang kuingat pertama kali adalah; ku akan kehilanganmu, hari bahagiamu sebentar lagi. Sedangkan aku masih bergulat dengan perasaan yang semakin hari, semakin melelahkan.  Kegelisahan itu semakin menyeruak ketika ponselku bergetar, seseorang sedang menelpon. Di tengah malam. Siapa lagi, kalau bukan sosok pengantar tidurku selama ini.  Ku lihat history panggilan, dan puluhan kali kamu coba menghubungiku, begitupun pesan yang kamu kirim melalui whatsapp.  Begini kah caramu mencariku? Sedangkan kamu pernah bercerita, mati-matian kamu mencari kekasihmu yang tiba-tiba hilang karena tidak kunjung diberi kepastian olehmu. Mulai dari menghubungi teman-temannya, hingga datang kerumahnya, yang berujung kalian saling mengikat janji, dan dengan bahagia dia menyambutmu melingkarkan cincin dijari manisnya. Aku tida...

Melepasmu pelan-pelan

Beberapa hari yang lalu, setelah kejadian itu, dan setelah janji pada diriku sendiri bahwa; aku harus mengikhlaskan perasaan ini. Aku kembali muncul ke permukaan. Bukan karena aku tidak bisa tanpamu, atau aku ingin kembali denganmu. Tapi, aku harus menjalani hidupku kembali, seperti biasanya. Hal-hal yang kutinggalkan beberapa hari ini, tidak bisa seterusnya ku hindari. Meski ku tau akibatnya, aku harus bertemu denganmu lagi. Ya, seperti yang sudah-sudah. Hariku memang sebagian diisi oleh kehadiranmu, sebagai seorang teman seperti yang lainnya. Bedanya, kemarin kita masih sering curi pandang, saling berpelukan dikala senggang, mengeratkan pegangan saat mulai renggang. Itu kemarin, tapi rasanya sudah berjuta-juta tahun lamanya. Tidak dipungkiri, aku masih merindukan hal itu. Aku merapal doa, seolah ini ujian akhir menuju kelulusan. Berharap, kejadian nanti dapat kulewati dengan mudah dan pulang dengan bahagia. Bertemu denganmu lagi, setelah beberapa hari tuli dari kabarmu, juga bisu unt...

Dan ketika aku benar-benar menghilang, apa kau mencariku?

Ku tau ini tidak mudah, tapi apa yang bisa dipertahankan dari; mencintai milik yang lain? Secara sadar, aku telah melukai hatiku sendiri. Hingga yang terakhir kudengar dari bibirmu, kamu akan mengikat janji seumur hidup dengannya, sebentar lagi. Hati mana yang tidak berantakan? Berulang kali, aku mengingatkan hati ini agar tidak berlebihan. Namun usahaku tak elak kalah oleh; hari-hari yang kulalui selalu bersamamu, pelukanmu yang begitu hangat, gurauanmu yang menghiburku, dan senyumanmu yang tanpa kusadari menjadi penyemangat dalam hidupku.  Maka bagaimana hatiku tidak berantakan mendengar kabar itu? Seolah keledai yang terjatuh dilubang yang sama, berulang kali aku ingin mengakhiri ini semua. Mengakhiri dukaku, juga rasa was-wasmu. Namun aku selalu kembali luluh oleh sikapmu yang begitu hangat. Aku kembali menitikkan airmata di dadamu, dan mengiyakan permintaanmu untuk menetap. Dan lagi-lagi, aku kecewa pada diriku sendiri yang telah ingkar janji. Kamu tidak pernah tau, bagaimana ...

Untuk Apa Ada Aku

Pelukmu masih hangat, Namun semakin kemari, hatiku semakin sakit. Untuk apa memiliki sebuah kehangatan, sedang tak sepenuhnya memiliki pelukan itu. Yang ku takut adalah ketika kamu menatapku dalam,  Harusnya aku terpukau, terpanah oleh tatapan itu, Namun yang ku takut adalah kata-kata yang nanti akan kamu ucapkan, Ucapan yang membuatku lagi-lagi berantakan, dan menyadarkan diriku sebagai pecundang. Kamu pamit. Aku akan berbagi pelukan dengannya, seseorang yang sesungguhnya memiliki pelukanmu, dirimu seutuhnya. Dan kenyataan yang ada, bukan aku sesungguhnya yang kamu pilih meskipun nanti kembali. Tidak ada aku dalam masa depanmu, Tidak ada aku dalam impian besarmu, Tidak ada aku dalam harapan-harapanmu, Tidak ada aku dalam rapalan doamu, Tidak ada. Dan tidak mungkin ada. Ketika seseorang telah memilikimu sepenuhnya. Lalu untuk apa ada aku?  Untuk apa pelukanmu masih menghangatkan tubuhku, Untuk apa kecupanmu masih menghapus lelahku, Untuk apa waktumu masih diberikan padaku yang...

Kemarau telah usai

Kemarau telah usai, Kini air menetes dari langit yang mendung, satu dua tiga hingga milyaran.  Menatap rintik yang tadinya sedang, berubah menjadi tak beraturan. Aroma yang sudah lama hilang, disambut semua orang dengan kebahagiaan.  Hujan,  Dulu aku menikmatimu bersamanya, Sebelum perempuan itu menyadarkan keberadaanku. Yang menghujam, Kala hari ini dia menikmatimu bersamanya, Dengan tawa yang hampir sama ketika bersamaku.  Hujan, kamu menghujamku dengan banyak kerinduan, Saat-saat dimana pelukan hangatnya menjadi penawar kedinginan.  Tapi kali ini hujan, kamu menghujamku dengan kehancuran, Memberitahuku bahwa senyumannya sudah tidak ada lagi, sejak terakhir kali kamu datang.

Ku kira kau masih sama

Ku kira senja berubah rasanya ketika kamu telah pergi, Tapi sore ini dia nampak masih memukau dan tetap hangat meski tuannya telah lama pergi bersama pagi. Tuan, lihat lah. Senja tak sepertimu, yang pergi saat bahagia dan datang saat lelah. Aku tak menyalahkanmu, tentang luka, pengorbanan, dan air mata. Tidak pernah kutau, bagaimana sesungguhnya dirimu ketika aku masih berjalan menuju arahmu. Mungkin saja kamu lebih terluka dariku, Mungkin saja kamu lebih tertatih dariku, Mungkin saja kamu lebih berdarah-darah dariku, Mungkin saja. Saat itu aku sibuk berjalan kearahmu, dengan pengorbananku. Sehingga aku tidak tau bagaimana keadaanmu. Yang kutau sekarang, kamu sudah tak mau lagi berjuang. Pengorbananku selama ini, menjadi sia-sia terbuang. Tapi tak mengapa. Kamu mengajariku, meski kamu telah pergi, namun orang-orang baik masih bersamaku. Merangkulku, dan menjadi tamengku yang sebenarnya kuharap adalah kamu.

Ketika kamu pergi

Kemarin aku sempat meyakinkan diri bahwa kamu masih menungguku, memberiku waktu menyusuri semak belukar dan kerikil tepi pantai untuk menuju pelukanmu. Hingga sekembalinya aku, kamu tetap menjaga hangatnya dada bidangmu. Dan enggan melangkah, agar ketika datang, ku tak lagi susah mencarimu. Begitu harapku. Namun setelah aku benar-benar datang, yang ada hanya ilalang bergoyang bersama kunang-kunang. Mereka menatapku nanar, seolah memberiku isyarat bahwa harapku tidak benar. Aku hanya tersenyum miris, karena airmataku sudah habis. Duri pada semak belukar, tajamnya ujung kerikil, membuatku mudah menangis. Tak satu atau dua luka, namun ribuan. Tapi ku anggap mudah, karena sebuah tujuan. Tapi sekarang? Hanya kekosongan. Mataku menerawang jauh. Menatap dua insan yang saling melempar senyuman. Mata mereka bertaut, hingga sebuah pelukan menghangatkan tubuh sang perempuan. Kakiku yang penuh bekas luka, tiba-tiba mundur hingga 5 langkah. Tanganku yang penuh sayatan, menekan dada beru...

Perempuan yang sudah kuhilangkan dari hatiku

Aku tidak mengerti apa yang terjadi denganmu, Terakhir kali, kamu bercerita semua yang terjadi dalam kehidupanmu setelah aku pergi, lalu memberiku selamat setelah tau aku dan dia memulai sebuah hubungan. Kemudian kamu hilang, benar-benar hilang. Aku tidak lagi bisa menemukanmu dari sudut manapun. Dan, entah kenapa perasaan takutku yang dulu mencuat kembali. Aku takut kehilanganmu lagi. Dia menarikku untuk duduk di tikar yang sengaja sudah di tatanya bersama yang lain, hari ini aku berlibur dengannya dan teman-temanku untuk mengisi waktu libur. Disaat seperti ini, kenapa pikiranku masih ada di kamu yang entah sedang apa, dan bagaimana kabarnya. Rasa khawatirku tak kunjung reda meski tangannya terus menggandengku. Dia memberiku perhatian lebih, dan aku bisa melihat itu dimatanya. Ada cinta yang luar biasa, namun aku belum seutuhnya bisa membalas. Karena, perempuan yang aku mau ada diluar sana, menghilang begitu saja tanpa kabar dan ucapan selamat tinggal. Hingga dimalam hari, aku ba...

Kita pernah searah

Aku yang menatapmu penuh dengan harapan, Tak lebih hanya kamu anggap sebagai teman. Aku yang memintamu untuk datang, Sedang kamu lebih memilih untuk pulang. Aku yang susah mencari cara untuk memulai perbincangan, Kamu dengan mudah mengakhirinya tuan. Aku yang berjalan dibelakangmu, Tapi berada diantara barisan teman-temanmu. Aku yang menjadikanmu tujuan, Kamu menjadikanku teman curhatan. Aku yang melihatmu seperti nirmala, Kamu melihatku tak lebih dari candala. Aku yang mendoakanmu disepertiga malam, Sedang kamu mencintainya dengan sangat dalam. Aku yang sibuk mencuri pandang, Tapi kamu tertawa bersama seseorang. Aku yang melindungimu dari hujan, Tapi kamu lebih memilih bermain dibawah hujan. Aku yang menantimu dipersimpangan, Sedang kamu sedang berbincang dengan seseorang untuk masa depan. Aku yang menangis atas perjuangan, Sedang kamu tertawa bahagia karena mendapatkan seseorang yang kamu harapkan. Aku yang ingin berhenti berjuang, Kamu tiba-tiba datang dengan ...

Apa masih ada ketulusan itu meski sedikit?

Kembali ku lihat momen-momen yang sengaja dia abadikan menjadi sebuah rangkuman singkat, dan ku melihat betapa bahagianya kamu ketika bersamanya, yang mungkin tidak pernah kamu dapatkan ketika bersamaku. Sama-sama menjabat tangan, tertawa dibawah terik matahari, dan minum ice cream berdua. Mengingatkanku bahwa jalanmu bukan lagi menujuku, tapi menuju perempuan lain. Kemarin aku melewati persimpangan, menatap tiap jalan yang pernah kulalui bersamamu. Ternyata itu sudah berlalu cukup lama, dan bisa saja kamu sudah lupa. Salahku memang menawarkan kata teman, sedang aku sendiri belum sepenuhnya bisa menjadi temanmu. Masih ada harapan-harapan kecil yang kubuat. Lalu aku memutuskan untuk tak lagi menghubungimu, setidaknya momen-momen yang dirangkum olehnya menjadi pengingatku. Lagian kamu pasti sudah terbiasa tanpaku, yang bukan menjadi hal penting lagi, yang hanya menjadi teman berbasa-basi. Aku berjanji pada diriku untuk benar-benar berhenti, bila hari ini kamu tak memulai untuk mengh...

Perempuan yang selalu kujaga dan kuhargai

Aku kembali mendapatkan sikapmu ini lagi, setelah beberapa tahun belakangan kita berpisah. Kamu bersikap seperti ini ketika dulu aku memutuskan untuk tak lagi berkomitmen dan membebaskanmu. Merelakanmu untuk sebuah restu. Jika kamu tau, aku merasa adalah laki-laki yang payah kala itu. Melepaskanmu dengan alasan materi. Sedangkan kutau, kamu tak pernah mempermasalahkan hal itu, asal kita bersama. Semua itu sudah berlalu, bersama kabarmu yang tak lagi kudengar, dan hanya bisa memperhatikanmu dari kejauhan. Hingga sebuah tangan menghentak pundakku, dan dia hadir merubah keadaan. Dia yang berusaha mengulurkan tangan untuk ku kembali bangkit, meski dia tau hatiku tidak semudah itu bisa berpaling. Ujarannya seolah menguatkanku, dan memberi tau bahwa ada seseorang yang bisa membuatku bahagia selain kamu. Sedangkan selama ini kamu yang hadir untuk buatku bahagia, sekalipun kamu pernah menyakitiku. Dia menarikku keluar dari zona ini, dimana aku yang masih memperhatikanmu dari kejauhan. Dia m...

Kalah sebelum dimulai, mundur sebelum berproses

Dengan menjadi perempuan sok kuat, akhirnya aku runtuh juga. Menutup mata, ternyata tak membuatku lupa akan semua kenangan kita dulu. Berjajar rapi, dan tidak ada satupun yang tau, bahkan kamu sekalipun bahwa; aku masih mencintaimu hingga kini. Tidak ada yang bisa kulakukan selain merelakanmu pergi bersama perempuan lain. Yah, kamu sudah bebas sekarang, lukamu sudah sembuh sempurna hingga meluruhkan seluruh cintamu yang dulu. Mungkin aku bisa belajar darimu, dari cinta tulusmu. Bagaimana harus merelakan seseorang yang dicinta untuk mencari kebahagiaannya. Sungguh, seseorang yang sedang bersama denganmu sekarang sangat beruntung, hingga mampu mengambil ketulusan cintamu. Aku tidak pernah lupa, Monster Senjaku. Bagaimana tahun belakangan ini kita tak saling berkabar, dan harusnya aku tau juga bahwa pasti ada perempuan lain yang ingin memulai hubungan denganmu, meluluhkan hatimu. Kamu tidak akan selamanya membuka lebar rentangan tanganmu untuk terus menyambutku. Aku mengerti bagaimana...

Jika kamu mencintainya, kenapa membuatku jatuh cinta?

Malam itu aku ingin menangis, Menghindar dari pemilik dada bidang yang selalu menenggelamkanku dalam kenyamanan. Aku tidak ingin kamu tau bahwa; semenyedihkan ini melihatmu bertengkar dengannya, yang itu karenaku. Aku selalu memintamu untuk datang, selalu menahanmu untuk menetap, tanpa aku tau; setelah itu selalu terjadi pertengkaran hebat antara kamu dan dia. Selama ini kamu selalu menjauh ketika mengangkat telpon darinya, dan kembali dengan wajah yang masam. Tapi sekarang aku tau apa alasannya. Dalam perjalanan, dibalik riuhnya kendaraan, aku menangis. Tiba-tiba dadaku rasanya sesak melihatmu menahan emosi karenanya, meminta maaf berulang kali, padahal ini sepenuhnya bukan kesalahanmu, aku juga lah yang membuatmu enggan pulang, aku lah yang membuatmu dituduh olehnya. Tapi kamu yang dihakimi sendirian. Aku yang berharap diprioritaskan seperti dia, menjadi sadar bahwa; pantaskah aku meminta hal itu? Ketika aku lah yang ada diantara kamu dan dia. Aku lah yang datang ter...

Alasan senyummu yang hambar

Aku harus ingat bahwa; kita sudah tidak saling komitmen, artinya tidak ada lagi yang menahanmu untuk pergi dan mencari kebahagianmu diluar sana. menyeretmu datang kembali dalam kehidupanku, dan berdamai dengan kata teman, seharusnya menjadi pertimbanganku matang-matang. Aku harus siap, apabila melihatmu berbahagia disana bersama perempuan lain, menceritakan tentangnya padaku. Aku masih ingat betul pertemuan kita kemarin, banyak hal yang kita bicarakan, candaan yang telah lama kurindukan, ingatan-ingatan tentang masa lalu, dan rasaku yang masih jatuh padamu, kekagumanku oleh mata sendumu, senyuman indahmu, dan tawa renyahmu. Namun aku tidak pernah sadar bahwa semua itu sudah hambar. Kamu tidak lagi merasakan seperti apa yang rasakan. Wajar, sepanjang waktu setelah kita memutuskan untuk tak saling berkomitmen, kita tidak lagi saling memberi kabar, bahkan takut untuk memulai percakapan meski itu hanya basa-basi. Jadi tidak ada salahnya kamu memulai hubungan dengan perempuan lain....

Aku yang menangis dipundakmu

Aku baik. Mungkin sama halnya denganmu. Sama-sama tak peduli bahwa ada batu besar setelah kerikil-kerikil ini. Padahal, sebenarnya- dalam hati masing-masing; ketakutan akan terlepasnya genggaman itu sangat nyata. Kita menjalani ini, seolah tidak ada dia. Kita bersorak ria, seolah tidak ada aral. Begitulah. Dan pada akhirnya, aku yang menangis dipundakmu, Menyadarkanmu; bahwa ruang ini sempit, dan entah siapa yang akan keluar lebih dulu. Tentunya bukan aku.

Aku

Aku, Buih embun yang kamu cari setiap pagi, Gubuk kecil tempatmu menaung kala siang, Bintang senja yang membuatmu menetap setiap sore, Kunang yang cahayanya kamu suka saat malam, Payung kecil untukmu berlindung dari hujan, Yodium ketika tubuhmu terluka, Paracetamol ketika demam membuatmu menggigil. Ya, aku yang selalu ada untukmu. Tapi tak pernah menjadi yang pertama, tak pernah diprioritaskan, tak pernah diperkenalkan, dan tetap menjadi yang disembunyikan. Bersenang-senanglah disana, tapi jangan pernah lupa ada aku, yang selalu menunggumu datang meski tujuanmu hanya untuk singgah. Sebagai perempuan, aku berhak untuk cemburu pada orang yang aku sayang kan? Sebagai manusia, aku berhak untuk iri pada apa yang ingin ku dapatkan kan? Ku mohon, jangan salahkan perasaanku. Kamu yang telah membuatku mempunyai perasaan ini. Dan sekarang? Kamu seolah acuh tak mau tau. Aku coba mengerti satu hal; bahwa aku yang tak pernah dianggap, tak harusnya berharap punya sayap untuk mendekap...

Harap itu tetap kurapal

Sejatinya hati perempuan, tak luput dari keragu-raguan. Sebagai yang masih menempati persembunyian, diam adalah hal paling menyakitkan. Lalu apa yang dapat dilakukan? Ketika perempuan ini ingin tau kabar dan keadaan, namun takut kamu mendapat kecaman. Lalu tidak lama, waktu menggiringmu untuk datang pada perempuan; yang telah menunggumu hingga lupa arah pulang. Persilahkan aku untuk berbicara, Ada banyak hal yang ingin kuungkapkan tentang hati yang rapuh berantakan. Akhirnya, setelah kamu persilahkan, Satu demi satu racauan dapat kukatakan. Dan semua jawaban logismu dapat kuterima dan tidak dapat disalahkan. Okee. Harusnya selesai. Tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi? Tapi kenapa perempuan ini masih belum puas. Hatinya masih sakit, seperti diombang-ambing oleh tuas. Dari kebimbangan itu, kamu malah marah. Wajar. Ketika masalahnya dibilang selesai, tapi perempuan ini masih berkutat untuk berkilah, dan memojokkanmu hingga lelah. Akhirnya aku sadar. Aku sedang iri pad...

Dia nirmala sedang aku hanya candala

Tuan Petrikor, Kenapa ku sebut kamu seperti itu? Karena kamu bak aroma hujan, yang mengundang candu, Membuatku terus berjalan, meski petir bersautan menderu. Terkadang kamu bak arunika, terkadang pula kamu bak swastamita. Kedatanganmu dan kepergianmu, Begitu saja, silih berganti seperti matahari. Dia nirmala, sedang aku hanya candala, Yang tuan temui ketika jengah. Mengapa? Apakah menjadi candala adalah karsa yang kuasa? Sedang, seorang bayi datang keperadaban suci tanpa dosa. Terbiasa dipenjara oleh rasa, Aku rela menjadi tahanan untuk menunggumu datang membawa karsa, Tapi lagi-lagi kamu datang hanya membawa asa yang tak kuasa. Apa definisi "Aku" dalam hidupmu? Meminta cinta dan raga, Tapi tak ada doa samawa, Memohon suka, Tapi yang ada duka.

Meski senyummu hambar, cinta ini tetap menguar

Monster Senjaku, terima kasih. Kamu sudah berbaik hati untuk tetap menjadi teman. Berselisih, Bertukar pikiran. Kamu kembali seperti dulu, Sebelum kita saling mengungkapkan rindu untuk jadi satu. Meski senyummu hambar, Cinta ini tetap menguar. Jika kamu tau, cinta ini sejengkalpun tidak berkurang, Mungkin kamu akan kembali pergi. Memalingkan muka, dan tak mau masuk lagi ke ruang, Lalu, aku kembali meringis merasakan sakit hati. Jadi, aku memutuskan berpura-pura, Agar usaha menarikmu lagi tidak menjadi sia-sia. Biarlah, jika dengan menjadi teman adalah sebuah pilihan, Yang terpenting aku tak kehilangan untuk kesekian. Aku tau sekali rasanya menahan rindu, Dan itu yang membuatku sekarang menjadi pecundang. Yang berharap beradu, Tapi tak tau cara berjuang. Mungkin mudah diucap, Namun sulit untuk diungkap. Dari apa yang aku rasa, Kamu sudah tak mau merasa. Aku yang menyakitimu, tapi aku yang ingin kamu kembali. Aku yang menghancurkan perasaanmu, tapi aku yang menan...

Berharap secuil diistimewakan

Baca sebelumnya : Kenapa harus aku yang disembunyikan? Untuk marah, aku siapa? Seseorang yang hanya kamu butuhkan ketika sedang terluka, lalu kamu hempaskan ketika bahagia. Tapi, kamu tak pernah akui itu. Ucapmu aku berarti dihidupmu, memiliki tempat sendiri dihatimu. Kalau boleh tau, dimana tempatku dihatimu? Ketika yang kamu perkenalkan pada khalayak adalah dia, perempuan yang telah kamu lingkarkan cincin di jari manisnya. Ketika kamu membangun masa depan bersamanya, perempuan yang selalu mengkhawatirkan dan memintamu untuk cepat pulang. Ketika kamu bekerja keras untuknya, perempuan yang ingin kamu bahagiakan bersama keluarga kecilnya. Lalu sekarang aku ingin bertanya, ketika apa kamu melakukan suatu hal, yang itu untukku? Aku diam. Aku memilih untuk selalu mengerti keadaanmu. Asal kamu tau dan ingat, selama ini aku selalu ada untukmu, mengalah untuk kamu yang keras kepala, menghibur untuk kamu yang emosi karenanya, memelukmu ketika kamu butuh kehangatan, mencumbumu ketika ka...

Tuan tak tau

Mungkin tuan tak tau, Ada hati yang iri pada dirinya, kekasihmu. Memilikimu, tanpa takut pada waktu, Mencintaimu, tanpa perlu menahanmu. Luar biasa, Aku iri pada seseorang yang telah memilikimu. Tuan tak perlu takut ketika melihat ku menangis, Karena mungkin dengan cara ini aku tau rasanya sakit mencintai tanpa bisa memiliki. Tuan tak perlu menyesal, Sebab salahku yang mau masuk ketika kamu persilahkan. Maafkan aku tuan, Terlalu meminta perhatianmu lebih, Meminta yang bukan hakku. Kurang ajar memang.

Kenapa harus aku yang disembunyikan?

Baca sebelumnya : Ku sembunyikan luka dengan tersenyum Aku dan kamu sekarang sedang berbelanja di Supermarket. Layaknya seorang suami-istri; meminta pendapat sebelum memilih, saling membandingkan harga produk, memilah antara yang dibutuhkan dan tidak, juga menggandeng lenganmu. Kamu sedikit terhenyak ketika tanpa sengaja tanganku melingkar dilenganmu. Kamu memandangku seolah "benar ini sedang kamu lakukan?". Dan saat itu aku baru sadar dengan apa yang aku lakukan. Refleks tanganku beralih dari lenganmu, sungguh aku hanya ingin menjaga privasimu, aku takut jika teman atau orang yang kenal denganmu dan dia melihat ini semua. Aku hanya takut itu. Bukannya sepertiku, kamu malah tersenyum menggoda. Seolah tidak peduli atas kekhawatiranku. Setelah sampai di sebuah rumah seseorang yang bisa dikatakan masih membutuhkan, kita memberi beberapa makanan, bahan pokok, minuman dan lain sebagainya, yang kita beli tadi, dan sudah dikemas menjadi sebuah parsel. Sedikit berbincang dengan ...

Berpura-pura

Ketika berduka, bukan senyuman yang diminta, Namun airmata. Terlalu banyak senyum yang kamu hamparkan, hingga kamu lupa sesak akan terasa lega bila kamu berhenti berpura-pura. Cukup menjadi orang yang berpura-pura, Kebohongan dengan senyum, sebenarnya cukup melukai banyak orang. Tertawa, bersorak ria, bercanda, ternyata menjadi anggapan mereka bahwa kamu masa bodoh, kamu tak peduli dengan masalah yang kamu punya sekarang. Padahal, maksudmu hanya tak ingin menjadi orang lemah yang butuh belas kasihan, yang meminta pertolongan. Tidak. Maka, berhentilah berpura-pura. Berhentilah tersenyum ketika hatimu menangis. Kamu tak kuat seperti baja, Kamu hanya perempuan yang kebalnya sebatas karang. Hantaman kecil, mungkin hanya mengoyak tubuhmu. Namun, ketika hantaman kecil itu lambat laun membesar, tubuhmu akan hancur olehnya. Bangunlah, dan lihat dirimu di cermin. Bertanyalah pada dirimu, apakah kamu sudah bahagia? Bahagiakah ketika dipaksa untuk apa yang tidak dikehendaki? Bahagia...

Kusembunyikan luka dengan tersenyum

Baca sebelumnya : Pelukan milikmu menghangatkan tubuhku kala itu Aku baik-baik saja. Tenang. Tak perlu mengkhawatirkanku. Kamu mengulang untuk mengecup keningku, kecupan yang penuh kasih sayang dan aku selalu terbuai. Aku mengerjap setelah kamu memberi jarak pada wajah kita yang tadinya tak ada sejengkal pun. Kamu tersenyum dengan teduh ketika melihatku sudah tenang. "Aku benci ketika kamu menangis." Ucapan itu yang selalu ku dengar saat aku tidak bisa menyembunyikan airmata yang jatuh. Sama halnya denganmu, aku juga benci dengan diriku sendiri yang terlalu mencintaimu hingga lupa siapa aku sekarang. Yang tidak lebih hanya teman; dimata banyak orang. Aku selalu masa bodoh, padahal aku membenarkan. Aku selalu tuli, padahal aku mengiyakan. Ya, kita hanya teman. Tapi kita cocok menjadi kekasih. Seolah masih membela diri, aku sedikit bersikap egois. Buliran bening yang kamu benci, kembali meluncur dengan santainya. Membuktikan bahwa aku terlihat lemah sekarang. Rencana...

Bertemu setelah sekian lama

Setelah banyak perencanaan, dan selalu batal. Akhirnya kemarin siang kita bertemu, tanpa direncakan, tanpa dijadwalkan, tanpa ba bi bu. Kita janjian di sebuah cafe. Aku mengirim share location, dan membubuhi sedikit ucapan hati-hati. "Jangan ngebut-ngebut, because keselamatan is first." Kataku dalam pesan. Tidak lama, kamu membalas pesanku dan bilang bahwa sudah sampai. Mataku mengedar keluar cafe, tapi tidak ada seseorang yang memarkirkan motornya didepan, atau pun tidak ada juga seseorang yang berjalan kedalam cafe. Akh, jangan-jangan dia salah tempat. Aku menelponmu, takut terjadi ada apa-apa. Dan kamu langsung mengangkatnya. "Halo?" Suara diseberang masih terdengar berisik oleh kendaraan. "Halo, kamu dimana? Katanya sudah sampek. Kok gak ada siapa-siapa yang dateng. Salah tempat?" Ucapku banyak sekali. "Maksudku baru sampek di dekat terminal." Jawabmu sembari tertawa, menertawai kekhawatiranku atau bagaimana? Aku berdecak. Masih sama ...

Pelukan yang selalu kurindukan

Sejauh ini kaki melangkah, yang ada dan selalu ini nyatanya adalah aku, perempuan yang kamu sembunyikan. Bukan enggan meminta kepastian, tapi aku tak punya hak untuk hal itu. Hari ini, kamu berulang tahun. Seperti tahun kemarin, aku mencari cara agar bisa merayakannya, berusaha sendirian, tanpa bantuan siapapun. Memikirkan konsep sederhana tapi berkesan bagimu. Kamu masuk dalam ruangan, tidak ada tulisan selamat ulang tahun, ataupun balon-balon seperti yang dilakukan oleh kekasihmu. Aku hanya menyiapkan kue kecil dan lilin, disana hanya ada aku dan kamu. Sembari membawa kue kecil tersebut, aku mengucapkan selamat, disana aku melihat senyum mengembang dengan sempurna. "Kamu mengingatnya?" Tanyanya dengan mengelus lembut pipiku. Matanya nanar. "Dan kamu menyiapkannya sendiri?" "Siapa yang mau membantuku?" Tanyaku balik. Tidak ada, jawabku sendiri. Tidak ada yang mau membantuku. Bukannya membantu, mereka malah akan mempertanyakan statusku apa, dan ada ha...

Rasamu bukan coklat yang habis ketika dilumat

Ayo kemari, kita duduk santai, Menyecap kopi sembari bercerita tentang yang sudah-sudah. Berceritalah tentangmu, yang kemarin tak menyapaku sama sekali. Yang memalingkan wajah hanya untuk melukaiku. Mengapa kamu melakukan itu? Seolah masih berpura-pura, kamu tetap tak bisa menolak. Rasamu, bukan gula yang mencair ketika diaduk, Rasamu, bukan coklat yang habis ketika dilumat, Rasamu, bukan duri yang tumpul ketika dipatahkan, Rasamu jauh lebih dari itu. Yang tidak hilang hanya dengan jentikan jari. Kamu bisa berbohong, tapi matamu selalu jujur kala melihatku. Kamu jangan menghilang, biar aku yang pergi jika menurutmu itu jauh lebih baik. Dan bila kamu berubah pikiran, cari aku dilubuk hatimu, maka kamu akan menemukanku disana. Karena nyatanya, aku tidak bisa hilang dari hidupmu, begitupun kamu dihidupku.

Laki-laki ini enggan pergi dan ingin menetap

Ketika pundak yang menjadi sesuatu ternyaman dimalammu ini, laki-laki ini rela meski harus menopangnya. Laki-laki yang kali pertama bertemu, telah jatuh dan tak dapat bangun meski dengan merangkak. Laki-laki ini meminta maaf, jika dengan mempersilahkanmu, menjadi hal menyakitkan hingga saat ini. Siapa yang tidak mau membuka, ketika seseorang yang diharap ada didepan pintu? Bahkan ketika logika berteriak jangan, hati memberontak seolah dia lah yang punya keputusan. Laki-laki ini enggan pergi dan ingin menetap, tapi seseorang dari masa lalu menyeret hingga melepas pelukan, dan membangunkanmu dari pundak ini. Lantas kamu malah beringsut, mencengkram lenganku untuk tak pergi. Sejatuh ini kah kita? Dan laki-laki ini hanya bisa menatapmu sedih. Ketika kamu yang datang di akhir, ketika ku telah bersama orang di masa lalu.

Wanita ini lah yang rela dihabisi rindu

Ditempat ini, Kita selalu menghabiskan waktu, Bercengkrama, tertawa lepas, dan bercerita tentang hari ini, sesekali kamu mengecup wanita ini yang akan terus jatuh cinta akan kecupan itu. Dan kamu selalu tertawa ketika wanita ini meringis kesakitan. Ya, wanita ini lah yang rela dihabisi oleh rindu, Dan wanita ini lah yang tak tau malu telah menahanmu ketika dia sedang menunggu, Apa boleh buat, ini salahmu! Kamu telah menyeret wanita ini hingga mengikutimu. Kamu mempersilahkan yang harusnya tak perlu kamu buka. Wanita ini tau, caramu menatap sudah banyak jutaan rasa didalamnya. Hingga dengan hanyut, menjadi jalan yang menggila. Dicerca, mungkin sudah semestinya, jika seluruh dunia tau, aku yang menahanmu untuk tak pulang. Dan kamu selalu takut, wanita yang selalu kamu jaga ini disakiti oleh perkataan mereka, yang memang benar adanya. Jika itu benar terjadi, tak apa. Asal aku bisa mendapatkanmu seutuhnya, tanpa meminta dari wanita lain.

Karena kepergianmu

Saatnya kamu tau, ada luka-luka yang masih menganga lebar. Saatnya kamu tau, ada duka yang masih berkabung. Miris, luka dan duka, menghantam karang yang tadinya berdiri kokoh. tak elak runtuh bersama hempasan ombak laut. hancur, berkeping-keping. Cuitan burung terasa lirih meski nyaring, Deburan ombak terasa hanya nyeri meski melukai, Gajah terasa belalang yang terbang dan hilang, semati rasa itu aku. Sebelum kamu datang, hati ini seolah masih hilang. Sebelum kamu datang, semuanya terasa jalang. Miris, Luka dan duka mencerca seluruh hariku, yang awalnya baik-baik saja, menjadi tak lebih dari ruang hampa. Sepi, jauh dari hiruk pikuk keramaian. Berjalan di atas batu bara, layaknya menapak di tumpukan jerami, Memegang duri, layaknya meraih sebongkah salju, Menghirup tai, layaknya mencium aromateraphy, semati rasa itu aku. Karena kepergianmu, semua menjadi masa bodoh.

banyak hal yang pernah kita lalui dulu, berfase-fase

Sabar hati, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan orang yang rindukan. seperti sudah tersinkron, hati dan bibirku jadi sejalan kali ini. Aku tersenyum dikala ingatanku mengingat, "besok kita akan bertemu". Ternyata ada tahap-tahap sebelum melakukan project yang sedang kita rencakan, dan hal itu semakin membuat banyak waktuku untuk bertemu denganmu. Kukira hanya sekali kita bertemu; tepatnya pada saat project itu dikerjakan. tapi ternyata kita perlu meeting dulu, membicarakan tema, rancangan, dan sebagainya yang diperlukan pada hari H. Aku merasa sedang menjadi perempuan yang baru jatuh cinta, sedangkan ku sudah punya cinta ini jauh sebelum aku terjatuh. Banyak hal yang pernah kita lalui, dulu, berfase-fase. Dari saat paling awal, ketika kita pertama kali mengenal, berbincang ringan mengenai pekerjaan, pendidikan, dan basa-basi yang membuatku sering menjadi tidak waras. Kemudian ketika kamu mengungkapkan perasaan, setelah banyak tulisan tentang keraguanku mengenai pe...

Seolah sehari serasa seabad

Kemarin kita berbicara, seolah hari itu sudah habis untuk kata. Kemarin kamu membiarkan ku menatapmu puas, tanpa menggangguku yang tidak waras. Hmm rindu. Rasanya bullshit. Saat kita sudah bertemu. Apa yang dirindukan? Dari cecenguk yang tiap kali kuajak bicara selalu tidak nyambung. Menyebalkan. Apa yang dirindukan? Dari suara cempreng yang selalu buat aku butuh untuk ganti gendang telinga. Resek. Apa yang dirindukan? Dari gurauanmu yang bikin selera humorku kampungan. Gila. Ya gila. Ternyata semua itu kurindukan, ketika baru kemarin kita bertemu. Seolah sehari serasa seabad.

Secuil hati yang ingin pergi

Riuh khalayak menyeruak seolah aku ada diantara mereka, Namun nyatanya aku tetap sendiri menikmati secuil hati yang ingin pergi. Terkadang, memang raga sedang berjalan, Tapi hati masih terdiam dan meredam. Secuil hati yang ingin pergi, Tak mampu berkutik karena hierarki ego, Mengapa tak dihancurkan saja? Mengapa tak dipatahkan saja? Jika nyatanya bersumpah tetap tak dipercaya. Siapa yang mau datang hanya untuk pergi? Tak ada. Tapi, merenung membuat seruan hati terdengar sangat gamblang. "Aku ingin pergi, aku ingin pergi. Aku lelah bergelut sendiri." Maka, sang raha hanya bisa diam. Ketika melihat hati yang meronta hendak pergi. Terperangkap dalam sunyi, karena seonggok hati yang tak tau diri. "Hei hati, mengapa kau tak mengalah?" Seolah lelah juga, raga ingin meredam hati. Berhenti. Mungkin bisa membuatnya baik-baik saja. Tapi tiba-tiba hati menangis sesenggukan, menatap raga yang kebingungan. "Apa yang kulakukan selama ini jika tidak berhen...

Ternyata kepergiaanmu masih menjadi mimpi burukku selama ini

Mengulang sendu, Ketika rindu, sedang bertemu. Malam itu sangat syahdu, Kamu menatapku penuh arti, dan ku mati kutu. Mengapa kamu selalu membuatku jatuh untuk kesekian kalinya, Mencuri rindu hanya untuk mengunciku dalam kesunyian. Setiap kuberbaring dan menatap langit-langit atap, Ada matamu yang mengedip dan mengisyaratkan bahwa nanti kamu akan kembali. Tapi, Jarak mengataiku bodoh. Mengapa aku masih berseloroh, Sedang kenyataannya aku kalah oleh yang mengataiku bodoh. Kamu sudah pergi, Sekedar menuai rindu dini hari, Seperti yang kita lakukan setiap hari, Menjadi duka tiap ku berangkat tidur. Terkadang aku terisak, Dan tiba-tiba terbangun. Ternyata kepergianmu masih menjadi mimpi burukku selama ini.

Selamat beristirahat, jangan lupa nanti kita bertemu

Beristirahatlah, Kemarin kamu sudah banyak bergulat dengan kotak-kotak berwarna putih, hanya mengkonsumsi air putih, dan nafsu makan untuk jatah nasi kotak pun tak kamu sentuh. Akh, semoga kamu tidak kurusan ya. Kamu terlihat sangat menggemaskan kalau pipi bakpao dan lengan bak paha ayam itu kulihat difoto. Sekarang saatnya kamu beristirahat, menidurkan punggungmu, memejamkan matamu, dan menikmati tidurmu. Aku janji tidak akan mengganggu kenikmatan yang baru kamu dapat setelah 2 hari ini. Pasti matamu sudah sangat sayu kali ini, meski aku tidak bisa melihatnya secara langsung. Biarkan aku mengandai-andai. Foto yang kamu kirimkan, yang masih bergulat dengan seluruh anggota-yang sama nasibnya denganmu, membuktikan bahwa kamu sedang lelah-lelahnya. Jaga kesehatanmu, nanti saban hari kita akan bertemu. Ada kegiatan yang akan kita lakukan bersama temanku juga, mungkin seyogyanya itu alasan paling logis agar aku bisa memandangmu secara langsung, setelah selama ini kita enggan saling a...

Membabi buta relungmu, dan menghunus ingatanmu

Sudah kemarin loh kita seluruh rakyat Indonesia menyalurkan hak suara,  berbondong-bondong duduk di kursi yang sediakan, menunggu giliran nama dipanggil, dan masuk ke dalam bilik, mencoblos dia yang dipilih dan diyakini bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik lagi. Sudah kemarin loh, dan kamu sekarang masih bergelut dengan para sebagian orang yang taat akan tugas negaranya. Sudah kewajibanmu, dan aku tau kamu sangat menyukai kegiatan yang berhubungan dengan negara tercinta kita ini. Kita pernah duduk berseberangan, saling menatap dan bertukar pikiran, sesekali kamu melempar candaan dan memberiku wejangan. Dan saat itu aku tau kamu ingin masuk ke dunia politik, katamu banyak tantangan disana, banyak yang menurutmu perlu di benahi, tikus-tikus yang kamu benci, bergemerutuk jika kamu mengingatnya. Mungkin ini sebuah batu loncatan untukmu semakin maju, dan menjadi apa yang diharapkan olehmu dulu. Semoga. Semangat! Redupmu akan diganti pagi yang cerah, Lelahmu akan digant...

Kamu pergi menyeret duka, dan kembali dengan senyum suka cita

Ketika kamu bertanya, Masihkah hatiku sama? Perlu kamu tilik dahulu manik mataku, Karena dia yang akan menjawab seluruh pertanyaanmu. Sejak dirimu berlari, Aku terdiam menatap punggungmu yang menjauh, Karena ku tau kamu akan kembali, Kamu akan paham bahwa aku tak butuh ragamu, tapi hatimu. Kamu pergi menyeret duka, Dan kembali dengan senyum suka cita. Aku tak mengapa, Ketika kamu kembali tanpa kata maaf. Lihat, betapa aku kuat, Menunggumu hingga berdarah-darah. Dengar, betapa aku sangar, Menantimu hingga tak tau waktu. Aku hanya ingin kamu tau, Aku pernah berpikir untuk jatuh, Tapi kuingat lagi jejakku sudah sejauh ini, Dan aku tidak mungkin mengakhiri dengan tangis kekalahan. Tidak. Aku masih menunggumu, mengertilah.

Aku bercerita tentangku yang tanpamu

Pada Oktober 2017, aku masih ingat kita mengobrol lewat telpon ketika aku dalam perjalanan pulang, aku meminta waktumu sebentar untuk berbincang, karena memang kebiasaan kita waktu itu saling berkabar lewat telpon, dan sekedar bergurau. Kemudian aku membahas "kita", dan tiba-tiba suaramu berubah, tak lagi sehumble sebelumnya, kamu memilih mengakhiri percakapan setelah saling diam dalam keheningan. Hanya 24 menit, yang kuanggap sangat mengesankan, aku bisa mendengar suaramu, hingga kusadar hari itu adalah terakhir kita berkabar lewat suara, karena setelah itu kita sudah tak punya cara untuk menyapa, sekedar "hai" pun kamu berpikir berulang kali melakukannya. Hingga hari ini aku tidak bisa menyembunyikan bahagiaku, ketika suara yang sudah lama tak kudengar itu bisa menyimpulkan senyumku. Suara itu, sungguh aku hampir lupa, tapi candamu masih sama recehnya seperti dulu, dan aku selalu tertawa mendengarnya. Kita tak secara terang-terangan bertanya kabar, tapi kita sal...

Pelukan milikmu menghangatkan tubuhku kala itu

Baca sebelumnya : Aku hanya menunggumu datang untuk menetap Sore ini hujan turun dengan derasnya, milyaran bulir bening menghujam coklatnya tanah, menguarkan bau khas hujan dan suara rintikan yang perlahan semakin cepat, terhitung menit air sudah menggenang, dan kamu mengajakku melewatinya dengan tawa. Mengenyahkan bahwa rintikan hujan itu terasa sakit saat mengenai kulit. Pelukan milikmu menghangatkan tubuhku kala itu, mencuri segala rasa nyamanku, dan aku terbuai oleh napas hangatmu yang menyebar ke seluruh wajahku. Ku tak menyangka, kita sedekat ini, tak ada jarak sejengkal yang memisahkan kita. Namun semua itu tak bertahan lama, ketika ponselmu bergetar cukup panjang, artinya ada panggilan masuk. Aku dan kamu pun tau, siapa pelakunya, kamu terlihat berdecak kesal. "Ada apa lagi?" tanyaku, pasti sebelumnya mereka sudah bertengkar, dan ku tau kekasihmu itu akan terus menghubungimu meski kamu sudah bilang untuk tidak diganggu. Pertanyaanku tidak kamu jawab juga, aku m...

Seandainya kamu mau datang

Sejak kemarin aku rasa kamu sedang berdamai dengan keadaan. Kita berbincang tentang yang lalu, dan kamu tertawa mengingatnya, kamu tidak menghindar seperti biasanya ketika ku mulai membuka cerita masa lalu. Aku berusaha membuatmu semakin ingat, kenangan-kenangan yang ada kutunjukkan dan; ini lah aku yang masih menyimpan rapat tentangmu, yang tak bisa lupa begitu saja. Tanpa kuduga, kamu masih mengingatnya, kamu menimpali apa yang ku ceritakan. Seperti yang kuingat beberapa hari lalu, perihal kita pergi ke rumah makan, dan masakannya yang kurang cocok di lidah, kamu diam-diam memotretku, dan ternyata aku masih menyimpan hasil jepretan itu. Masih tersimpan rapi bersama kenangannya yang entah dapat terulang kembali, atau tidak sama sekali. Seolah menyerah dengan rasa, kita berbincang cukup lama sampai saat ini, kita bergurau dan berujar ringan. Ingin rasanya bertanya bagaimana perasaanmu sekarang padaku? Masih sama seperti yang kupunya, atau sudah habis oleh hati lain yang mengalihkanmu ...

Kita yang ada dijalan berbeda

4 tahun yang lalu tepatnya, aku mulai mengenalmu, dan aku berani menuangkanmu dalam tulisanku. Sebenarnya aku sudah mengenalmu sejak lama, tapi kita saling bertegur baru pada 4 tahun yang lalu. Dan pada tanggal 27 maret 2016, aku menulis tentangmu, tentang penantian akan dibawa kemanakah hati ini. Aku mengukirmu dalam sebuah doa, mencuri namamu dalam sebuah sujud. Menerka rasamu yang entah pada saat itu sudahkah untukku. Aku hanya takut melangkah pada waktu itu, aku takut semakin mengemban rasa yang berlebih, namun sakit ketika tau kamu tak juga punya rasa itu. Tapi, ternyata sebuah penantianku mendapat titik terang, kamu menyatakan rasamu secara langsung disebuah rumah makan, dan entah kamu tau atau tidak, pipiku memerah, rasanya panas, dadaku terlihat berdetak karena jantung yang sudah tak normal detaknya. Dan aku tau, waktu itu juga kamu sangat canggung. Aku tersenyum mengingatnya. Itu semua sudah berlalu, ketika keadaan menghancurkan semua. Kini yang ada, kita berjalan dijal...

Aku hanya bisa mendengar derap langkahmu yang semakin lirih

Serupa langkahmu yang berderap ketika melatih paskibra, begitupun langkahmu yang semakin jauh. Suara hentakan nya lambat laun melirih, dan akhirnya tak terdengar sama sekali. Apa kabar kamu? Percayalah, aku masih mengingat setiap kenangan yang pernah kita ukir. Tak ada kesedihan, pertengkaran, ataupun gerutuan. Yang ada hanya kata-kata gurauan, perdebatan yang menggemaskan, dan tatapan. Tatapan itu meremuh denyut nadiku, menghantamkan sesuatu pada perasaanku, dan merengkuh seluruh kenyamananku. Kamu yang berlari menjauh tanpa menoleh ke belakang, sedang ada aku disini yang memintamu untuk kembali. Tapi kenyataan telah membuatmu enggan untuk datang, ketika dengan pergi membenarkan semua keadaan. Kenapa tak kamu genggam saja tanganku, dan membawaku lari? Kenapa kamu berlari sendiri, dan menghancurkan hati. Seperti diujung pantai waktu itu, Kamu menutup kepalaku dengan jaketmu, melindungiku dari teriknya matahari siang itu. Kenapa kamu tak melakukannya sekarang? Kenapa kamu m...

Seandainya aku bisa menunggu sebentar untuk pertemuan kita

Baca sebelumnya : Perempuan dalam persembunyianku masih memiliki hati ini seutuhnya Hari ini aku datang kerumahnya, dia merengek untuk kutemui, katanya dia merasakan rindu dan aku dikira tidak merasakan hal itu juga. Entah mengapa apa yang dikatakannya itu benar, karena yang buatku bisa merasakan itu adalah kamu. Aku sendiri tidak tau kenapa, dan sejak kapan, rasa itu benar-benar hilang tergerus oleh posesif dan egoisnya dia. Aku tidak pernah mau membandingkan dia dengan kamu, tapi setiap kali kamu memperlakukanku, secara tidak sengaja aku membandingkan kalian, dan aku selalu kagum terhadapmu yang bisa meluluhkan kerasnya aku. Seperti kali ini, seperti yang dulu-dulu, aku selalu pamit untuk pergi kerumahnya, mengunjunginya sekali seminggu, dan disana pun aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain game, karena disana rasa nyamanku sudah hilang, dan aku benar-benar risih. Meskipun dia bersikap manis, tapi selalu ada hal yang membuatnya bersikap egois, dan berakhir dengan pert...

Lalu siapa yang sedang membuatmu jatuh cinta

Dari kemarin aku mencari waktu untuk bertemu denganmu, menguarkan cerita hari-hari yang lalu. Dan biasanya kamu bersedia untuk mendengarnya, tapi sekarang kamu beralasan bahwa sedang ada acara, tapi tidak sekali dua kali, berkali-kali dan aku tidak tau apa yang sedang kamu lakukan disana. Kamu laki-laki ku yang ku anggap dapat menjaga percayaku, namun rasa khawatir masih tidak bisa kuelakkan. aku takut ada perempuan lain yang mengalihkan perhatianmu, hingga akhir-akhir ini membuatmu sedikit jauh dariku. Dan kali ini, aku berusaha menghubungimu dengan telpon whatsapp, karena pesanku tidak kamu hiraukan sedikitpun. Kamu selalu marah jika aku memprotes pesanku tidak kamu baca, tapi terlihat online. Ah ayolah, apa aku salah ingin diprioritaskan? aku adalah kekasihmu, dan sebentar lagi kita akan menikah, kenapa tidak ada waktu yang kamu luangkan sedikit untukku? Aku ingin menemuimu, kamu tidak tau bagaimana rasanya menahan rindu, dan kamu mungkin tidak pernah merasakan hal tersebut pada...

Aku hanya menunggumu datang untuk menetap

Baca sebelumnya : Akulah yang masih mengalihkan perhatian dan perasaanmu Kemarin kita sedang membicarakan tentang teman satu kantor kita yang baru saja menikah dadakan, aku tersenyum sumringah, bukan karena persepsi-persepsi aneh yang diujarkan oleh kebanyakan orang, mengenai alasan menikah dadakannya, tapi aku tersenyum bahagia karena tidak ada alasan lagi yang buatku cemburu. Dulu, kamu itu selalu sengaja jadi kompor meleduk yang buatku panas dan ingin menjitak puncak kepalamu, kamu paling suka melihatku cemberut dan kesal karena hubungan kalian, yang kutau perempuan itu sedikit ada perhatian ke kamu, dan kamu memanfaatkan itu untuk buatku panas. Aku sendiri tertawa mengingatnya, kenapa aku dulu cemburu pada hubungan mereka yang sebenarnya tidak perlu ku khawatirkan. Karena ada kenyataan yang sudah aku takutkan sejak awal berhubungan denganmu. Yaitu ketika kamu benar-benar sudah memilih menikah dengan kekasihmu yang sekarang. Lalu apalah dayaku yang kamu sembunyikan selama ini? ...

Lalu apa kabar perempuan yang kemarin

baca sebelumnya : ketika hatiku sedang dibohongi Aku berunding dengan duka, dan aku memutuskan untuk melupakanmu. Untuk apa terus memperjuangkan, sedang sekedar menengok, kamu enggan. Tadi ibu bertanya tentangmu lagi, aku tidak bisa menyembunyikan ini terus-menerus. Akhirnya dengan berat hati, aku memberikan pengertian bahwa semuanya sudah berakhir, semuanya sudah dihancurkan sebelum aku benar-benar mencintai. Dan diluar ekspektasiku, ibu tersenyum lalu mengelus puncak kepalaku, dibalik senyumnya, sebuah ketenangan mengalir menyelimuti atmosfer, dan dadaku terasa longgar setelah banyak yang menghimpit. Ia berkata bahwa; yang datang akan selalu pergi, dan kita harus selalu siap untuk melepas, karena kepergiaan akan selalu meninggalkan luka. Begitupun yang berjodoh pun akan tetap terpisah. Aku lega, melihat reaksi ibu ku. Kisahku tidak sebanding dengannya yang sudah hidup berpuluh tahun sebelumku, yang tentu lebih banyak mengenyam pedih, duka, luka, suka dan bahagia. Aku akan banya...

Bermain game online denganmu

Aku lupa, kita sekarang sudah jauh, dan punya sekat yang tidak seharusnya aku elakkan. Maafkan jika aku terlalu excited, ketika bisa satu kegiatan denganmu, dan kita bisa seru-seruan didalamnya, ya meskipun hanya dalam sebuah game online. Aku tertawa mengingatnya, betapa aku terlihat norak dan grogi mengendalikan game ketika satu tim denganmu. Aku bahkan memposting hasil dari game yang kita mainkan dan mention kamu didalamnya. Tapi sikapmu tiba-tiba menjadi dingin. Pembicaraan kita sebelumnya memang hanya basa-basi selayaknya teman biasa, saling memuji hasil permainan, dan menertawakan kebodohan, tapi semuanya berubah dengan balasan pesanmu yang singkat. Aku berpikir keras atas sikapmu ini, kita teman bukan? Tapi kenapa seakan-akan kamu sedang berbincang dengan orang yang tidak dikenal. Kemudian aku sadar, harusnya aku tidak membawa namamu lagi dikehidupanku, aku tau kamu risih. Aku memutuskan untuk unpublish capture kemenangan kita yang sebelumnya sudah kulakukan beberapa menit ya...

Ketika hatiku sedang dibohongi

Aku baru sadar bahwa kamu datang hanya untuk memberiku pelajaran; bahwa yang terlihat serius, belum tentu tidak meninggalkan. dan bodohnya, aku masih memintamu untuk datang ke rumah, mengemis seolah aku masih sangat membutuhkanmu. Dengar, jika kamu tidak pernah datang kerumah dan bersikap sangat manis pada orangtuaku, aku tidak akan melakukan hal ini. Kamu telah mengambil hati orang tuaku, memberi persepsi pada mereka bahwa kamu lah yang pantas untukku nantinya. Saat itu aku luluh, melihat orang tuaku sangat menyukaimu, maka ku putuskan untuk menerimamu, meski pada saat itu ada seseorang yang sudah memenuhi hatiku, namun selalu menorehkan luka. Aku berpikir kenapa tidak, ketika seseorang yang sedang ku perjuangkan tidak menghiraukanku, mengapa aku tidak menerima orang lain yang jelas-jelas mau datang kerumah; yaitu kamu.  Tapi ternyata luka itu jauh lebih menyakitkan ketika kamu yang menorehkannya. Kamu seolah lupa apa yang pernah kamu katakan pada orang tuaku, kamu boleh hi...

Mengenyah ragu, menilik rindu

Pada sang senja, aku bahagia meski harus dengan banyak cara, karena kutau bahagiaku hanya saat bersamamu. Mengenyah ragu, menilik rindu, dan melawan waktu, Aku mampu melakukannya, cuma untuk bersua. Pada sang senja, memikirkanmu telah banyak menguras tenagaku, sehingga ku bertekad untuk mendekatimu. Bukan hal mudah, tapi tak membuatku resah, sebab hatiku masih terarah, Aku mampu melakukannya, cuma untuk bersua. Pada sang senja, bolehkah aku mencurimu pada saat mengurai, sebab aku ingin memilikimu tanpa batas. batas yang berjarak, luka yang berserak, kucoba untuk mengelak, Aku mampu melakukannya, cuma untuk bersua.

Pada sang senja, bawa aku saja

Kita ingin pergi keruang, Tapi yang kita temui adalah jurang. Kita tak ingin saling membuang, Tapi keadaan yang menghentikan kita untuk berjuang. Pada sang senja, Bawa aku saja. Aku mau bersamamu, Karena aku tak bisa tanpamu. Rindu ini telah menghancurkanku, Dan bagaimana denganmu? Kita dulu pernah satu jalan, Tapi nyatanya kita ditahan, Kita dipisahkan, Oleh keadaan. Juang tak tentu menuju ruang, Dan satu jalan, belum tentu kita tak ditahan. Kini, yang terisa hanya rindu, Dan kita tak dapat beradu, Karena semua itu sudah berlalu, Dan hanya menyisakan pilu. Pada sang senja, Bawa aku saja. Aku lelah mengarungi waktu, Yang tak dapat membuat kita bersatu.

Kamu yang masih bisa tersenyum ketika mengucapkan selamat tinggal

Kamu ingat waktu kita makan berdua di rumah makan dan masakannya tidak sesuai dengan ekspektasi kita? Masih ingatkah? Saat itu aku memilih untuk tidak melanjutkan makan, sedangkan kamu dengan wajah yang menahan rasa mual masih terus coba menghabiskan. Dan alhasil, kamu mampu menghabiskannya tanpa tersisa. Aku melihatnya tidak bisa menahan tawa, sembari cekikikan kudorong semangkok mie pesananku ke depannya. "Aku punya firasat buruk." Ucapmu waktu itu, karena kamu sudah hapal betul tugas ketika makananku tidak habis. Aku lagi-lagi tertawa, baiklah untuk makanan lain yang rasanya lumayan kamu bisa menghabiskan, tapi untuk kali ini tidak sepertinya. "Firasatmu selalu buruk." Balasku. Aku lagi-lagi tertawa mengingat hal itu. Bukan hanya mengingat kenangannya, tapi kenyataan yang terjadi sekarang. Itu semua sudah berlalu ditahun-tahun yang lalu, dimana sekarang tidak tersisa waktu sedikitpun untuk mengulangnya, atau mungkin tidak akan terjadi. Aku yang menghancurkan ...

Aku yang meninggalkanmu, dan aku yang merasa kehilangan

Seperti luka yang kuberi kemarin, Aku menuangkan peluh kembali untuk kesekian. Rupanya tak satu atau dua, tapi berulang-ulang. Dan kamu masih tersenyum kearahku, tanpa berniat untuk mencengkramku dan berteriak "Aku membencimu! Kamu telah banyak melukaiku!" Tidak. Kamu masih mau menerimaku, lagi dan lagi, meski hanya sebagai teman. Tapi luka yang kuberikan, tidak seharusnya menempatkanku diposisi ini. Lebih cocoknya, aku dihempaskan. Hatimu seperti berlian, dan aku bangga pernah memilikinya, walau hanya sekilas sebelum ruang memberi sekat dan kita tidak bisa melewatinya lagi. Luka yang kemarin belum sembuh sempurna, mungkin masih banyak tersisa dan aku menambahnya lagi. Tuan monster senja, ku rindu. Banyak hal tentangmu yang kutuangkan dalam tulisan. Tentangmu, yang sangat mencintaiku, Tentangmu, yang hanya berpikir untuk membahagianku, Kemudian, tentangmu, yang kusakiti hatinya bertubi-tubi, Tentangmu, yang memilih pamit untuk pergi, Dan tentangmu, yang sudah baha...